Selamat tinggal kelabu

Kelabu itu aku
Menatap malu pada waktu
Terjerat kata maaf yang membisu
Membiarkan sebelah sayap terbujur kaku
Berlari mengejar manisnya taman bunga semu

Putih itu kamu
Berhiaskan hati seluas laut biru
Menghadiahiku pasangan sayap baru
Memupukkan kembali senyumku yang terlanjur layu
Tanpa perdulikan sendu yang kutitipkan padamu di masa lalu

Kini kelabuku mulai bersemu
Tersapu putihnya rayu yang kau selipkan di sela-sela jemariku
Tuhan, jangan patahkan lagi sayap baruku
Agar ku bisa terus menari bersamanya di bawah langit merah jambu
Selamat tinggal kelabu, jangan curi lagi penerang langkahku


merah muda

dulu,

langitku selalu kelabu

kakiku tak sanggup melaju

senyumku tersungging kaku

hatiku terkapar layu

                       kini,

                       langitku kian bersemu

                       kakiku selalu mengikuti pandumu

                       senyumku tersipu malu

                       hatiku berteman baru

                                       kamu,

                                       tuangkan tinta merah muda di kanvas kelamku

                                       taburkan serpihan bunga di setiap pejamku

                                       teteskan wangi rindu di setiap langkahku

                                       tebirtkan sinar mentari di binar mataku

                                      




to be like them is my biggest wish

to be like them is my biggest wish


Lalu

Jangan salahkanku jika ku berbalik arah, kau meninggalkanku di ujung jalan patah

lalu apa inginmu? berlutut agar kau tak berlalu?

Maaf kukira kau yang kutuju, ternyata hanya pelabuhan semu


mimpi manis di pulau biru

Detik jam dinding mengalun lambat, aku bersandar di ruang tunggu

Seketika aroma khas tubuhmu menusuk indra pembauku

Aku melayang lalu terhempas di atas tumpukan memori terdahulu

Aku rindu tatapan sayumu yang mencemaskanmu

Aku rindu tangan kokohmu yang selalu menggenggamku di setiap langkahmu

Aku rindu bersepeda disampingmu menyusuri jalan berbatu 

Aku rindu menikmati malam hangat di jembatan kayu bersamamu

Aku rindu kecupan manismu di pagi hariku hanya untuk menguatkanku

Aku rindu saat saat manis di pulau biru

Namun itu hanya selipan manis di tumpukan kertas terdahulu

Kini aku hanya bisa membiarkanmu menikmati dongeng barumu


Kau pandai meramu kata, hingga kini mauku hanya kamu
GM 

Dua

Saat ku termangu lesu, kau datang merayu

Saat ku tatap matamu, tak ada semburat palsu

Saat ku diam terpaku, kau berjalan memandu

Saat ku samakan langkahku, kau terus menuntunku

Saat ku mulai berlari, kau mundur satu demi satu  

Saat ku berani melayang, kau tetap diam ditelan waktu

Aku tercengang, sayapku kembali lemah

Aku oleng, mataku kembali buta arah

Aku hilang, tenggelam di lautan payah

Aku menyerah, kita itu DUA bukan SATU


mati satu tumbuh seribu

mati satu tumbuh seribu

akhirnya aku bisa memaknai ungkapan lampau ini.

disaat kamu mulai mencoba untuk mundur teratur, disaat aku melemah, mereka datang menopangku dengan menjinjing berkantung-kantung rasa sayang.

awalnya aku pikir mereka hanya teman tetapi ternyata mereka layak disebut sahabat, mereka memang baru tetapi mereka tau cara yang baik untuk memperlakukanku.

Trimakasih kalian



tolong bantu aku memilih, ikut berputar bersama jarum detik atau hanya diam menunggu pandu seperti jarum menit di arlojiku?

tolong bantu aku memilih, ikut berputar bersama jarum detik atau hanya diam menunggu pandu seperti jarum menit di arlojiku?


kamu

aku suka saat kamu mengulum senyummu

aku suka saat kamu tersipu saat mencoba merayu

aku suka saat kamu menatapku malu

aku suka saat kamu menghangatkan jari-jariku

aku suka saat kamu merapikan rambut nakalku

aku suka kamu, dengan apa adanya kamu